KULINER BULAN JANUARI 2020

Makan apa minum apa jajan apa ~

Salah satu kegiatan produktif yang wacananya akan rutin dilakukan tiap bulan, bikin jurnal tentang makan, minum, dan jajan. Berikut cerita makan untuk bulan Januari 2020 :))

Sudah difoto dan diedit se-aesthetic mungkin, semoga bisa menambah referensi makan di Balikpapan yaa

IMG_5329

Awal minggu pertama di tahun 2020 dimulai dengan nyobain sate taichan nyot2 di Balikpapan Baru. Harga per porsi sate taichan 25 rebu dapat 10 tusuk. Nasi 5 rebu dan es teh 5 rebu juga. Sate taichannya ada yang full daging, full kulit, atau kombinasi daging kulit. Untuk aku ya so so lah rasanya. Tetep sate bumbu kacang masih juarak !

Continue reading “KULINER BULAN JANUARI 2020”

Resolusi 2020

IMG_5357

Setelah 2 tahun nggak bikin resolusi, alias idem sama tahun 2017, tahun ini dengan segala usaha dan tekad berhasil membuat resolusi 2020. Yaaaay !!!

Emang kenapa sih bikin resolusi segala ? yaaa, nggak papa sih. Cuma dengan membuat resolusi hidupku lebih ada alurnya, jadi tau apa yang mau dicapai, dan nggak ngikut alur waktu aja kaya tahun sebelumnya. Resolusinya juga biasa aja hehe

IMG_5336IMG_5337 (Edited)

Continue reading “Resolusi 2020”

Mengurangi Sampah Dimulai dari Diri Sendiri

Manusia menghasilkan sampah sebanyak 0,7 kilogram perhari, jumlah yang banyak tentunya apabila dikalikan dengan jumlah penduduk yang ada. Sebagai contoh, negara dengan tingkat populasi ke-4 terbanyak di dunia, yaitu Indonesia. Indonesia memiliki jumlah penduduk sebesar 269 juta jiwa, berarti dalam satu hari Indonesia memproduksi kurang lebih 175.000 ton sampah perhari. Dari data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Ibu Rosa Vivien Ratnawati, Direktur Jenderal Pengelolaan Limbah, Sampah, dan Bahan Beracun Berbahaya (PSLB3) menerangkan komposisi sampah dominan adalah organik, plastik, kertas, logam, dll. Sumber sampah berasal dari rumah tangga sebagai penyumbang dominan, sisanya berasal dari pasar tradisional, kawasan komersial, fasilitas publik, sekolah, kantor, dan sebagainya. Dengan keadaan sampah seperti ini, manusia memiliki peranan penting dalam pengendaliannya, yaitu dengan menguranginya. Mengurangi produksi sampah. Bagaimana caranya? berikut beberapa pengalamanku untuk mengurangi sampah.

Saya memulai kegiatan minim sampah dengan menggunakan sedotan stainless steel, waktu itu hanya sekadar mengikuti hype dan membantu teman yang sedang berjualan sedotan besi. Setiap pergi ke warung, rumah makan, atau kedai kopi, sedotan besi selalu dibawa sebagai pengganti sedotan plastik. Namun lama-lama menjadi kebiasaan untuk selalu membawa stainless straw. Tak lupa membawa botol minum, hal ini mengurangi potensi membeli air mineral kemasan. Membawa sapu tangan sebagai pengganti tisu. Selanjutnya membawa kantong belanja sendiri setiap berbelanja, dikarenakan kebijakan aturan pemerintah seperti di kota tempatku tinggal, kota Balikpapan melarang penggunaan kresek di mall, swalayan, mini market dan toko-toko tradisional. Namun dari larangan ini, saya merasa sama sekali tidak terbebani, justru semakin bersemangat untuk mengurangi penggunaan kresek.

Continue reading “Mengurangi Sampah Dimulai dari Diri Sendiri”

Piknik Zero Waste Ceunah

amunisi piknik

Menghampar tikar dan membawa makanan dari rumah untuk dinikmati di alam terbuka adalah hobiku akhir-akhir ini ketika jenuh, suntuk, dan butuh liburan. Bosan dengan suasana mall, alam terbuka ada pelarian terbaik. Tapi sayangnya cukup susah untuk mewujudkannya, dikarenakan susahnya mencari teman yang mau diajak kegiatanku itu.

Ketika aku mengajak “yuk piknik!”, beberapa berpikiran piknik harus dilakukan ke luar kota, pertamanya aku mikir, apa iya piknik harus keluar kota, aku rasa ada miss konsepsi tentang pengertian piknik, sambil aku cek ke KBBI tentang pengertian piknik. Piknik adalah bepergian ke suatu tempat di luar kota untuk bersenang-senang dengan membawa bekal makanan dan sebagainya; bertamasya. Ternyata yang selama ini salah itu aku ha ha ha.

Continue reading “Piknik Zero Waste Ceunah”

Pengalaman Setahun Menjadi Minimalis

IMG_1698

Dimulai dari sebuah ketidak sengajaan dari kebiasaan anak muda sekarang, scrolling linimasa Facebook, eh tapi anak muda  sekarang sudah jarang yang main sosial media yang ini. Waktu itu menemukan status seseorang yang bercerita tentang teman kuliahnya, yang dari maba sama lulus hanya punya tiga jilbab aja. Hitam, biru dongker, dan coklat, sementara si pembuat status memiliki banyak sekali jilbab, misal warna hijau dengan berbagai tone, dari hijau ketupat sampai hijau telur asin, telur asin ini hijau atau biru sih (?), berbagai sepatu, tas, dan baju. Biasa perempuan, punya baju selemari penuh, tetep aja bilangnya gak punya baju. Kemudian si penulis status membaca bukunya Marie Kondo – The Life Changing Magic of Tidying Up. Dan mendapatkan ilham setelah membacanya.

Continue reading “Pengalaman Setahun Menjadi Minimalis”

#ASIKGAKPLASTIK

IMG_3176
Hola~
Kalau diperhatikan penggunaan kantong plastik alias kresek ini bebas dan mudah sekali. Misal beli pentol atau salome. Salomenya dibungkus pakai plastik, dimasukan lagi ke kantong plastik, ini artinya pulang ke rumah sudah membawa dua sampah plastik. Belum lagi kalau ke pasar tradisional, asli deh itu semua-muanya pakai kantong plastik. Beli tahu yang sudah dibungkus plastik masih dikasih kresek. Dan pedagangnya sih dengan candaan klasiknya bilang “kreseknya gratis kok”. Pengurangan penggunaan kresek di Balikpapan sendiri sudah diatur dalam peraturan walikota (Perwali) nomor 08 tahun 2018. Dimulai dari gerakan kresek berbayar, nggak mahal sih 200 rupiah perbijinya, harapannya penggunaan kresek bisa diminimalisir. Dari pada bayar, lebih baik bawa tas belanja sendiri. Ternyata kebijakan kresek berbayar tidak cukup efektif, biasa orang Balikpapan itu kaya-kaya, he he he aaammiiin. Jadinya mulai tanggal tiga Juli tahun 2019, peraturan diperketat, tidak dengan menaikan harga kreseknya, tetapi melarang penggunaannya. Praktik ini diterapkan di Mall, swalayan, mini market, Indomaret, Alfa midi, dan toko-toko. Continue reading “#ASIKGAKPLASTIK”