Mengurangi Sampah Dimulai dari Diri Sendiri

Manusia menghasilkan sampah sebanyak 0,7 kilogram perhari, jumlah yang banyak tentunya apabila dikalikan dengan jumlah penduduk yang ada. Sebagai contoh, negara dengan tingkat populasi ke-4 terbanyak di dunia, yaitu Indonesia. Indonesia memiliki jumlah penduduk sebesar 269 juta jiwa, berarti dalam satu hari Indonesia memproduksi kurang lebih 175.000 ton sampah perhari. Dari data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Ibu Rosa Vivien Ratnawati, Direktur Jenderal Pengelolaan Limbah, Sampah, dan Bahan Beracun Berbahaya (PSLB3) menerangkan komposisi sampah dominan adalah organik, plastik, kertas, logam, dll. Sumber sampah berasal dari rumah tangga sebagai penyumbang dominan, sisanya berasal dari pasar tradisional, kawasan komersial, fasilitas publik, sekolah, kantor, dan sebagainya. Dengan keadaan sampah seperti ini, manusia memiliki peranan penting dalam pengendaliannya, yaitu dengan menguranginya. Mengurangi produksi sampah. Bagaimana caranya? berikut beberapa pengalamanku untuk mengurangi sampah.

Saya memulai kegiatan minim sampah dengan menggunakan sedotan stainless steel, waktu itu hanya sekadar mengikuti hype dan membantu teman yang sedang berjualan sedotan besi. Setiap pergi ke warung, rumah makan, atau kedai kopi, sedotan besi selalu dibawa sebagai pengganti sedotan plastik. Namun lama-lama menjadi kebiasaan untuk selalu membawa stainless straw. Tak lupa membawa botol minum, hal ini mengurangi potensi membeli air mineral kemasan. Membawa sapu tangan sebagai pengganti tisu. Selanjutnya membawa kantong belanja sendiri setiap berbelanja, dikarenakan kebijakan aturan pemerintah seperti di kota tempatku tinggal, kota Balikpapan melarang penggunaan kresek di mall, swalayan, mini market dan toko-toko tradisional. Namun dari larangan ini, saya merasa sama sekali tidak terbebani, justru semakin bersemangat untuk mengurangi penggunaan kresek.

Continue reading “Mengurangi Sampah Dimulai dari Diri Sendiri”

Piknik Zero Waste Ceunah

amunisi piknik

Menghampar tikar dan membawa makanan dari rumah untuk dinikmati di alam terbuka adalah hobiku akhir-akhir ini ketika jenuh, suntuk, dan butuh liburan. Bosan dengan suasana mall, alam terbuka ada pelarian terbaik. Tapi sayangnya cukup susah untuk mewujudkannya, dikarenakan susahnya mencari teman yang mau diajak kegiatanku itu.

Ketika aku mengajak “yuk piknik!”, beberapa berpikiran piknik harus dilakukan ke luar kota, pertamanya aku mikir, apa iya piknik harus keluar kota, aku rasa ada miss konsepsi tentang pengertian piknik, sambil aku cek ke KBBI tentang pengertian piknik. Piknik adalah bepergian ke suatu tempat di luar kota untuk bersenang-senang dengan membawa bekal makanan dan sebagainya; bertamasya. Ternyata yang selama ini salah itu aku ha ha ha.

Continue reading “Piknik Zero Waste Ceunah”

Pengalaman Setahun Menjadi Minimalis

IMG_1698

Dimulai dari sebuah ketidak sengajaan dari kebiasaan anak muda sekarang, scrolling linimasa Facebook, eh tapi anak muda  sekarang sudah jarang yang main sosial media yang ini. Waktu itu menemukan status seseorang yang bercerita tentang teman kuliahnya, yang dari maba sama lulus hanya punya tiga jilbab aja. Hitam, biru dongker, dan coklat, sementara si pembuat status memiliki banyak sekali jilbab, misal warna hijau dengan berbagai tone, dari hijau ketupat sampai hijau telur asin, telur asin ini hijau atau biru sih (?), berbagai sepatu, tas, dan baju. Biasa perempuan, punya baju selemari penuh, tetep aja bilangnya gak punya baju. Kemudian si penulis status membaca bukunya Marie Kondo – The Life Changing Magic of Tidying Up. Dan mendapatkan ilham setelah membacanya.

Continue reading “Pengalaman Setahun Menjadi Minimalis”

#ASIKGAKPLASTIK

IMG_3176
Hola~
Kalau diperhatikan penggunaan kantong plastik alias kresek ini bebas dan mudah sekali. Misal beli pentol atau salome. Salomenya dibungkus pakai plastik, dimasukan lagi ke kantong plastik, ini artinya pulang ke rumah sudah membawa dua sampah plastik. Belum lagi kalau ke pasar tradisional, asli deh itu semua-muanya pakai kantong plastik. Beli tahu yang sudah dibungkus plastik masih dikasih kresek. Dan pedagangnya sih dengan candaan klasiknya bilang “kreseknya gratis kok”. Pengurangan penggunaan kresek di Balikpapan sendiri sudah diatur dalam peraturan walikota (Perwali) nomor 08 tahun 2018. Dimulai dari gerakan kresek berbayar, nggak mahal sih 200 rupiah perbijinya, harapannya penggunaan kresek bisa diminimalisir. Dari pada bayar, lebih baik bawa tas belanja sendiri. Ternyata kebijakan kresek berbayar tidak cukup efektif, biasa orang Balikpapan itu kaya-kaya, he he he aaammiiin. Jadinya mulai tanggal tiga Juli tahun 2019, peraturan diperketat, tidak dengan menaikan harga kreseknya, tetapi melarang penggunaannya. Praktik ini diterapkan di Mall, swalayan, mini market, Indomaret, Alfa midi, dan toko-toko. Continue reading “#ASIKGAKPLASTIK”

Perempuan Ceria di Kursi Belakang

“Duh ngantuknya” keluh Junior,

Cowok berusia 21 tahun yang bekerja bagian logistik di kantorku.  Junior baru saja masuk kerja, setelah kemarin izin ada acara keluarganya di luar kota.

“Kamu balik jam berapa emang ?” tanyaku.

“Jam 10 malam sih Mbak, bisnya”

“Lah kenapa nggak tidur aja selama perjalanan”

“Nggak bisa aku Mbak tidur kalau lagi perjalanan kaya gitu”

Junior bercerita dia baru saja sampai di rumahnya jam empat subuh, dan tidak bisa tidur. Puncak kantuknya siang ini, jam satu, jam setelah istirahat, perut kenyang. Penyakit klasik manusia, habis makan, kenyang, kantuk.

Perjalanan  Junior menuju rumah saudaranya melintasi hutan demi hutan. Ada salah satu daerah yang dilintasinya, dan itu terkenal dengan perempuan. Perempuan melayang, tidak menapak ke tanah.

Untuk sedikit membantu mengurangi kantuknya, iseng aku tanya dengan pertanyaan tidak berbobot.

“Berati kemarin lewat hutan yang jalannya curam itu dong, angker tau di sana, katanya banyak penampakan”

“Hahaha yaelah Mbak, ada “perempuan” di kursi belakang sih mbak, hmm kayaknya”

“…..” Continue reading “Perempuan Ceria di Kursi Belakang”

BPN6AM

Love is Cinta
Teruntuk kalian yang nggak tau itu cinta, cinta adalah love, love adalah cinta.

Hola!

Minggu pagi ini (7/7) menjadi weekend produktif dibandingkan Minggu yang lain, berawal info dari Ika kalau bakal ada kegiatan Balikpapan 6 AM, orangnya yang ngasih info sih juga nggak tau itu acara apaan, cuma kayaknya seru aja gitu. Setelah aku lihat, asik juga sih Balikpapan 6 AM ini, cocok buat memproduktifkan hari, ceileh.

Jadi apasih Balikpapan 6 AM itu ?

Indonesia 6 AM, sebuah kegiatan menjepret, memfoto kegiatan dipagi hari, kalo informasi dari profil Instagramnya “Enjoying Indonesia with different point of view.
Pictures around 6AM (5-9) in the morning.” Anak senja can’t relateee~ dan titik temu kali ini berkesempatan di Balikpapan, Taman Bekapai. Acara dimulai dari jam 6-11 pagi, dilanjutkan di malam hari dengan kegiatan workshop and sharing session bersama founder Indonesia 6 AM, Bill Satya.

Continue reading “BPN6AM”

Magic Word

Jam 09:30, dan masih belum ada kabar dari Juned, kekasihku. Hari ini, dia janji mau jemput aku di kantor, bersedia mengantar aku meeting di Gedung Sentosa, tapi sudah tiga puluh menit dia belum ada kabar. Ditelepon tidak diangkat, dichat tidak dibalas. Aku memutuskan untuk menggunakan layanan ojek online, daripada harus terlambat, profesional is number one. Sampai di Gedung Sentosa,

‘Maaf sayang, aku nggak jadi anter ya, ada urusan mendadak’

Chat dari Juned tampak di pemberitahuan layar gawaiku, alasan klasik selama enam bulan ini. Hubungan kami baru setahun, namun sejak enam bulan ini, sifat Juned mulai berubah. Mungkin jenuh, aku tidak mau memikirkan masalah ini. Aku juga jenuh dengan hubunganku.

Pertemuan perjanjian kerja sama berjalan lancar, berjalan dua ratus meter dari Gedung Sentosa, Mie Ayam Abang Jambul, aku akan makan siang di sini, tempatnya tidak terlalu ramai. Aku memesan mie ayam jamur dan es jeruk, panas siang ini akan lebih segar dengan es jeruk. Mengambil dua sendok sambal dan mulai mengaduknya. Rasanya enak, dan akan aku jadikan salah satu referensi makan siangku. Membayar di kasir, dan aku bertemu Juned, Juned bersama Dinda. Aku memasang muka rata, berusaha memberi tatap seperti baru pertama kali bertemu dengan orang asing. Juned memegang tanganku, karena ojek online pesananku sudah datang, aku melepaskan pegangannya, lagipula aku tau, Juned nggak akan pergi mengejarku dan meninggalkan Dinda seorang diri. Yakan jadi drama banget, belum lagi kalau tiba-tiba hujan, terus ada lagu Indianya. Oke siang itu aku balik ke kantor dengan perut kenyang.

Continue reading “Magic Word”